Leher dan pinggang sering kaku, kesemutan, atau nyeri datang dan pergi meski masih muda? Kenali sinyal gangguan saraf dan pentingnya konsultasi sejak dini bersama dokter spesialis saraf RSU Pakuwon.
Selengkapnya
Hipertensi tidak hanya dialami orang dewasa. Anak juga bisa mengalami tekanan darah tinggi tanpa gejala jelas. Kenali tanda, penyebab, dan pencegahannya bersama RSU Pakuwon agar anak tetap sehat.
Selengkapnya
Osteoporosis sering berkembang tanpa disadari, terutama pada wanita. Kenali faktor risikonya dan cara menjaga kesehatan tulang bersama RSU Pakuwon sejak dini.
Selengkapnya
Nyeri dada sering memicu kepanikan karena dikira serangan jantung. Kenali perbedaan GERD dan serangan jantung, gejalanya, serta kapan perlu ke rumah sakit.
Selengkapnya
Puasa Ramadhan bukan sekadar niat. Tanpa persiapan fisik, tubuh bisa “mogok” di tengah ibadah. Simak cara menyiapkan tubuh untuk menyambut Ramadhan bersama RSU Pakuwon.
Selengkapnya
Makan bukan hanya soal kenyang. Pelajari cara makan yang benar bersama RSU Pakuwon untuk menjaga kesehatan jangka panjang keluarga Anda.
Selengkapnya
Diabetes sering tidak bergejala di awal. Kenali komplikasi diabetes yang kerap tidak disadari dan langkah pencegahannya bersama RSU Pakuwon.
Selengkapnya
Banyak orang merasa sudah “makan dengan benar” karena tidak lapar dan berat badan stabil. Padahal, di ruang praktik kami, keluhan kesehatan justru sering berawal dari pola makan yang dianggap biasa saja.
Masalahnya bukan kurang makan, tapi salah cara makan. Tanpa disadari, kebiasaan yang dilakukan setiap hari perlahan membentuk kondisi tubuh kita. Tidak terasa hari ini, tidak selalu bermasalah besok, tetapi dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian.
Di Rumah Sakit Umum Pakuwon, kami melihat pola yang sama berulang kali. Keluhan kesehatan jarang datang secara tiba-tiba. Lebih sering, keluhan tersebut terbentuk perlahan dari kebiasaan makan sehari-hari yang dianggap sepele.
Artikel ini tidak bertujuan menghakimi atau menakut-nakuti. Tidak pula mengarahkan pembaca pada diet tertentu. Tujuannya satu: membantu masyarakat memahami cara makan yang benar, sebelum tubuh “meminta perhatian” lewat berbagai keluhan kesehatan.
Karena menjaga kesehatan bukan dimulai saat sakit, melainkan saat kita masih merasa baik-baik saja.
Banyak orang berhenti makan ketika perut terasa penuh. Rasa kenyang sering dijadikan penanda bahwa tubuh sudah “cukup”.
Padahal, tubuh tidak bekerja berdasarkan rasa kenyang semata. Tubuh bekerja berdasarkan kualitas asupan yang diterima.
Seseorang bisa merasa kenyang, tetapi tubuhnya tetap kekurangan serat, protein, vitamin, atau mineral penting. Dalam jangka pendek, kondisi ini mungkin tidak menimbulkan keluhan. Namun dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini bisa memengaruhi daya tahan tubuh, energi harian, hingga fungsi organ.
Memahami perbedaan ini adalah langkah awal dalam membangun pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Cara makan yang benar sering disalahartikan sebagai diet ketat, pantangan ekstrem, atau mengikuti tren tertentu. Padahal, pendekatan seperti ini justru sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Di RSU Pakuwon, pendekatan gizi selalu berangkat dari keseimbangan, bukan larangan. Tujuannya bukan membuat seseorang merasa terbatas, melainkan membantu tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan secara proporsional.
Pola makan yang baik adalah pola yang realistis, dapat dijalani sehari-hari, dan sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Beberapa kebiasaan sederhana ini sering dianggap remeh, padahal dampaknya besar bila dilakukan terus-menerus:
Kebiasaan ini tidak langsung terasa dampaknya. Namun efeknya menumpuk dan perlahan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Pola makan bukan keputusan individu semata. Dalam banyak kasus, kebiasaan makan terbentuk dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Anak belajar bukan dari teori, tetapi dari apa yang ia lihat setiap hari. Cara orang dewasa memilih makanan, waktu makan bersama, hingga kebiasaan mengonsumsi camilan akan membentuk pola makan anak hingga dewasa.
Ketika keluarga membiasakan makan dengan lebih sadar, teratur, dan seimbang, dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi menjadi fondasi kesehatan jangka panjang.
Di Rumah Sakit Umum Pakuwon, edukasi gizi dipandang sebagai bagian dari perawatan, bukan sekadar pelengkap.
Kami percaya bahwa kesehatan terjaga bukan karena takut sakit, tetapi karena memahami cara merawat tubuh. Dengan informasi yang tepat, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih sadar dan sesuai dengan kebutuhan tubuhnya masing-masing.
Makan adalah rutinitas yang sering diremehkan, padahal dampaknya bersifat jangka panjang. Apa yang kita konsumsi hari ini akan memengaruhi kondisi tubuh kita di masa depan.
Dengan memahami cara makan yang benar. Bukan sekadar kenyang, tetapi tercukupi. Kita memberi tubuh kesempatan untuk tetap sehat lebih lama dan menjalani aktivitas dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Rumah Sakit Umum Pakuwon
Mendampingi Anda memahami kesehatan, sejak hal-hal paling mendasar.
Setiap orang memiliki kebutuhan gizi yang berbeda. Untuk mendapatkan panduan yang tepat dan sesuai dengan kondisi Anda dan keluarga, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi RSU Pakuwon melalui WhatsApp: +62 813-8388-8225
Bagi sebagian Wargi Pakuwon, diabetes sering kali terasa tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Selama masih bisa bekerja dan beraktivitas, kondisi ini kerap dianggap aman.
Namun dalam praktik layanan kesehatan, banyak pasien baru menyadari diabetesnya bermasalah ketika komplikasi mulai muncul secara perlahan.
Diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh tanpa disadari. Karena itu, mengenali risiko komplikasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup tetap baik.
Komplikasi diabetes umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang perlahan seiring kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam waktu lama.
Dalam pelayanan sehari-hari, tim medis RSU Pakuwon kerap menemui pasien yang datang dengan keluhan lanjutan, padahal sebelumnya merasa tubuhnya baik-baik saja.
Beberapa penyebab yang sering terjadi antara lain :
Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat memberi tekanan pada organ tubuh seperti jantung, ginjal, saraf, dan mata.
Gula darah tinggi dapat memengaruhi pembuluh darah kecil dan saraf, terutama di tangan dan kaki. Inilah sebabnya keluhan kesemutan atau mati rasa sering muncul secara perlahan.
Pola makan tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, serta kebiasaan merokok turut berperan dalam mempercepat risiko komplikasi diabetes.
Setiap penderita diabetes memiliki risiko yang berbeda. Berikut beberapa komplikasi yang sering menjadi perhatian dalam pemantauan kesehatan:
Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah
Diabetes dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem peredaran darah. Kondisi ini berkembang perlahan dan sering tidak disadari sejak awal.
Gangguan Saraf pada Tangan dan Kaki
Kesemutan, mati rasa, atau nyeri pada kaki merupakan keluhan yang cukup sering ditemui. Kondisi ini membuat luka kecil mudah terabaikan dan berisiko memburuk.
Masalah Ginjal
Ginjal berfungsi menyaring limbah dari darah. Jika kadar gula darah tinggi berlangsung lama, fungsi ginjal dapat menurun secara bertahap.
Gangguan Penglihatan
Perubahan pada pembuluh darah mata dapat menyebabkan penglihatan kabur. Pemeriksaan mata secara rutin membantu mendeteksi gangguan lebih awal.
Luka Sulit Sembuh
Gangguan aliran darah dan saraf dapat membuat luka, terutama di kaki, menjadi lebih sulit sembuh jika tidak dirawat dengan baik.
Kabar baiknya, banyak komplikasi diabetes dapat dicegah atau diperlambat dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Wargi Pakuwon disarankan berkonsultasi jika mengalami:
Konsultasi sejak dini membantu mencegah komplikasi berkembang lebih jauh.
Di RSU Pakuwon, kami memahami bahwa diabetes bukan hanya tentang angka gula darah, tetapi tentang menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Melalui edukasi, pemeriksaan, dan pemantauan kesehatan yang berkelanjutan, RSU Pakuwon berkomitmen mendampingi Wargi Pakuwon dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Jika Wargi Pakuwon memiliki diabetes atau berisiko mengalaminya, berkonsultasi lebih awal dapat menjadi langkah bijak.
Silakan jadwalkan konsultasi dengan dokter RSU Pakuwon melalui halaman jadwal dokter kami.
Banyak Wargi Pakuwon yang masih aktif bekerja dan beraktivitas sehari-hari, namun mulai sering merasakan leher atau pinggang terasa kaku, kencang, atau tidak nyaman. Keluhan ini sering dianggap sepele—sekadar kelelahan atau salah posisi duduk. Namun dalam praktik, keluhan ringan seperti ini sering berkaitan dengan fungsi saraf.
Gangguan saraf tidak selalu muncul secara tiba-tiba atau berat. Sering kali dimulai dari sinyal-sinyal halus yang perlahan muncul dalam aktivitas harian.
Dalam keseharian, beberapa keluhan berikut kerap muncul tanpa disadari bahwa penyebabnya berasal dari sistem saraf:
Keluhan ini tidak selalu berbahaya, namun perlu diperhatikan bila sering muncul, berulang, atau mulai mengganggu kenyamanan aktivitas harian.
Saraf adalah jalur komunikasi antara otak dan seluruh tubuh. Setiap gerakan, sensasi, nyeri, hingga koordinasi tubuh bergantung pada kerja saraf yang optimal.
Saat fungsi saraf terganggu, tubuh bisa memberikan sinyal seperti:
Mengenali sinyal sejak dini membantu mencegah keluhan berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Konsultasi lebih awal membantu dokter menilai kondisi secara menyeluruh dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Di RSU Pakuwon, dokter spesialis saraf memberikan pelayanan yang profesional dan humanis. Pendekatannya meliputi:
Jika Wargi Pakuwon mulai merasakan keluhan pada leher, pinggang, atau sensasi tubuh yang berbeda dari biasanya, konsultasi sejak dini dapat membantu mencegah gangguan yang lebih menghambat aktivitas. RSU Pakuwon siap mendampingi Wargi Pakuwon dalam menjaga kesehatan saraf dengan aman dan nyaman.
Bagi setiap orang tua, kesehatan anak tentu menjadi prioritas utama. Selama ini, banyak yang menganggap hipertensi hanya dialami orang dewasa. Padahal dalam pelayanan kesehatan, anak-anak juga dapat mengalami hipertensi, bahkan sering kali tanpa keluhan yang jelas.
Kondisi ini sering tidak disadari karena anak tampak aktif dan sehat seperti biasa. Mengetahui risiko hipertensi sejak dini membantu orang tua mengambil langkah pencegahan yang tepat demi kesehatan jangka panjang anak.
Hipertensi pada anak merupakan kondisi tekanan darah di atas batas normal sesuai usia dan tinggi badan. Masalahnya, hipertensi pada anak sering tidak menimbulkan gejala khas sehingga sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan.
Menurut data UKK Nefrologi IDAI, hampir 19% anak usia 6–18 tahun di Indonesia mengalami hipertensi. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi dan perlu mendapat perhatian lebih.
Gejala dapat berbeda tergantung usia:
Perlu dipahami bahwa tidak semua anak dengan hipertensi menunjukkan gejala, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting.
Hipertensi pada anak dapat disebabkan oleh gaya hidup maupun kondisi medis tertentu:
Tanpa penanganan, hipertensi dapat meningkatkan risiko:
Deteksi dini sangat membantu mencegah risiko ini.
Peran orang tua sangat penting, antara lain:
Kami memahami bahwa kesehatan anak bukan hanya tentang mengobati, tetapi juga mendampingi tumbuh kembangnya secara berkelanjutan.
Jika Wargi Pakuwon memiliki kekhawatiran terkait tekanan darah anak atau faktor risiko tertentu, berkonsultasi lebih awal dapat membantu memastikan kondisi anak terpantau dengan baik.
Silakan jadwalkan konsultasi dengan dokter RSU Pakuwon. Kami siap mendampingi Wargi Pakuwon dalam menjaga kesehatan keluarga.
Banyak wanita merasa tulangnya baik-baik saja karena tidak pernah mengalami patah atau nyeri hebat. Masih bisa beraktivitas, bekerja, dan merasa tubuh tetap kuat.
Padahal, dalam pelayanan medis, osteoporosis sering ditemukan bukan saat pasien mengeluh, tetapi saat pemeriksaan lanjutan dilakukan. Bukan karena tulang tiba-tiba rapuh, melainkan karena prosesnya telah berlangsung perlahan selama bertahun-tahun.
Masalahnya bukan sekadar usia. Cara tubuh wanita bekerja serta kebiasaan sehari-hari sangat memengaruhi kesehatan tulang dalam jangka panjang.
Osteoporosis jarang datang sebagai kejadian mendadak. Lebih sering, kondisi ini berkembang perlahan tanpa keluhan berarti. Tulang terus mengalami proses pembentukan dan penguraian. Ketika penguraian berlangsung lebih cepat, kepadatan tulang menurun.
Artikel ini bertujuan membantu wanita memahami mengapa kesehatan tulang penting dijaga sejak dini—bahkan saat tubuh masih terasa sehat. Karena menjaga tulang dimulai jauh sebelum terjadinya patah tulang.
Menurut International Osteoporosis Foundation (IOF), sekitar 1 dari 3 wanita usia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis.
Ada beberapa faktor biologis dan gaya hidup yang berperan:
Secara alami, wanita memiliki massa dan struktur tulang yang lebih kecil. Cadangan massa tulang juga lebih sedikit, sehingga penurunan kepadatan tulang lebih cepat mencapai titik rapuh.
Estrogen berperan penting menjaga kepadatan tulang. Setelah menopause, kadar estrogen turun drastis sehingga mempercepat penguraian tulang. Inilah sebabnya wanita pascamenopause memiliki risiko osteoporosis yang lebih tinggi.
Selama kehamilan dan menyusui, tubuh membutuhkan lebih banyak kalsium dan mineral. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, tubuh mengambil cadangan dari tulang. Pada kehamilan berulang atau asupan kurang, risiko penurunan kepadatan tulang meningkat.
Asupan kalsium, vitamin D, protein yang kurang, serta minim aktivitas fisik dapat mempercepat hilangnya massa tulang. Banyak wanita aktif bekerja sehingga tanpa disadari kurang memperhatikan kebutuhan nutrisinya sendiri.
Osteoporosis bersifat silent. Tidak selalu menimbulkan nyeri atau keluhan lain. Banyak pasien baru menyadari ketika mengalami:
Karena itu, deteksi dini sangat penting dilakukan.
Di RSU Pakuwon, pencegahan osteoporosis adalah bagian dari perawatan jangka panjang. Menjaga tulang bukan berarti hidup dalam kekhawatiran, tetapi memahami kebutuhan tubuh.
Langkah sederhana seperti:
Dapat berdampak besar bagi masa depan.
Kesehatan tulang dibentuk oleh kebiasaan jangka panjang. Pola hidup aktif dan asupan gizi baik dalam keluarga, terutama pada anak perempuan, menjadi fondasi kesehatan tulang hingga dewasa.
Osteoporosis bukan sekadar masalah usia lanjut. Ini adalah hasil proses panjang yang melibatkan faktor biologis, gaya hidup, serta pemahaman terhadap kebutuhan tubuh sendiri.
Dengan mengenali risikonya sejak dini, wanita memiliki kesempatan lebih besar menjaga kekuatan tulang dan kualitas hidupnya.
Rumah Sakit Umum Pakuwon
Mendampingi Anda memahami kesehatan, sejak hal-hal paling mendasar.
Untuk arahan medis yang lebih personal, Wargi Pakuwon dapat berkonsultasi melalui WhatsApp:
0813-8388-8225
Nyeri dada yang datang tiba-tiba sering membuat siapa pun panik. Banyak orang langsung mengira itu serangan jantung. Padahal, dalam banyak kasus, keluhan tersebut bisa disebabkan oleh GERD atau asam lambung naik. Karena gejalanya mirip, tidak sedikit pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi cemas. Lalu, apa sebenarnya perbedaannya?
GERD dan serangan jantung sering tertukar karena keduanya sama-sama dapat menimbulkan nyeri atau rasa tidak nyaman di dada. Area kerongkongan dan jantung berada berdekatan, sehingga sensasi nyeri yang muncul sulit dibedakan hanya berdasarkan rasa saja.
Pada GERD, nyeri dada muncul akibat iritasi dinding kerongkongan oleh asam lambung. Sementara pada serangan jantung, nyeri terjadi karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Meski penyebabnya berbeda, sensasinya bisa terasa hampir sama bagi penderitanya.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi kronis ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat katup lambung yang melemah atau tidak menutup sempurna.
Keluhan GERD biasanya muncul setelah makan, saat berbaring, atau ketika tubuh membungkuk. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
Pada sebagian orang, GERD juga dapat menimbulkan rasa sesak di dada sehingga semakin sulit dibedakan dengan gangguan jantung.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat, biasanya oleh penumpukan plak di pembuluh darah koroner. Nyeri yang muncul umumnya terasa berat, menekan, atau seperti tertindih.
Gejala lain yang sering menyertai antara lain:
Tidak seperti GERD, nyeri jantung tidak berhubungan dengan pola makan atau posisi tubuh, dan tidak membaik dengan obat lambung.
Beberapa perbedaan yang dapat membantu mengenali sumber nyeri dada:
Segera periksa ke rumah sakit bila nyeri dada:
Dalam dunia medis, prinsipnya adalah: lebih baik memeriksa lebih awal daripada menyesal kemudian.
RS memiliki fasilitas lengkap untuk evaluasi seperti pemeriksaan fisik, EKG, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dengan diagnosis tepat, pasien dapat ditangani sesuai penyebab — baik GERD maupun jantung.
Pendekatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi memberikan rasa aman dan kepastian bagi pasien.
Nyeri dada memang sering membuat panik. GERD dan serangan jantung dapat menimbulkan gejala yang mirip, namun keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Jangan menebak sendiri — pemeriksaan adalah langkah paling aman untuk memastikan keadaan.
Setiap menjelang Ramadhan, narasinya selalu sama: niat diperkuat, target ibadah disusun, dan resolusi spiritual dibuat. Namun satu hal yang sering terabaikan adalah kesiapan tubuh.
Puasa Ramadhan bukan rutinitas biasa. Ia mengubah cara tubuh bekerja. Ketika niat sudah kuat tetapi tubuh tidak disiapkan, yang muncul bukan pahala berlipat, melainkan rasa lemas, pusing, dan ibadah yang terhenti di tengah jalan.
Puasa adalah perubahan drastis bagi tubuh. Pola makan berubah total, jam tidur bergeser, asupan cairan terbatas, dan metabolisme dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat.
Jika perubahan besar ini dianggap remeh, maka wajar bila di minggu pertama Ramadhan banyak orang merasa tumbang bukan karena puasanya, melainkan karena tubuhnya tidak dipersiapkan.
Tubuh yang tidak dipersiapkan berisiko mengalami kelelahan berlebihan, pusing, sulit fokus, dan emosi yang tidak stabil selama berpuasa. Akibatnya aktivitas terganggu dan ibadah berjalan tidak optimal.
Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum perbaikan diri justru berubah menjadi bulan “bertahan hidup”.
Tubuh membutuhkan bahan bakar yang tepat. Mulai biasakan pola makan dengan karbohidrat kompleks, protein cukup, lemak sehat, dan sayur serta buah sejak sebelum Ramadhan.
Kebutuhan cairan harus dipenuhi secara konsisten. Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan lebih stabil dan tidak mudah pusing selama puasa.
Mengurangi tidur tanpa manajemen yang tepat akan membuat tubuh cepat lelah dan sulit fokus, termasuk saat beribadah. Mengatur pola tidur sebelum Ramadhan adalah bagian dari persiapan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara spiritual dan fisik. Ibadah dimaksudkan untuk membawa kemudahan, bukan membebani.
“Beruntunglah seseorang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadhan.”
— Lathaiful Ma’arif, hlm. 138
Memperbaiki diri mencakup kesehatan tubuh. Dengan tubuh yang siap, ibadah dapat berjalan dengan lebih khusyuk dan berkelanjutan.
Menyambut Ramadhan tidak hanya tentang menguatkan niat, tetapi juga menyiapkan tubuh secara menyeluruh. Ketika niat yang tulus disertai kesiapan fisik yang baik, ibadah dapat berlangsung lebih nyaman dan bermakna.
Jika Wargi Pakuwon memiliki pertanyaan atau membutuhkan evaluasi kesehatan sebelum berpuasa, konsultasi dengan tenaga medis adalah langkah bijak. RSU Pakuwon siap mendampingi Anda menyambut Ramadhan dengan sehat dan tenang.
Ikuti Sosial Media Kami
Jl. Rd Dewi Sartika No.17, Regol Wetan,
Kec. Sumedang Sel., Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45311